Kamis, 14 Oktober 2010

pesan AYAH

1988

Hari ini engkau terlahir ke dunia, anakku. Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya iman dan memperoleh fauzan’adzima, kemenangan yang besar seperti yang engkau telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran. Sungguh kelahiranmu telah mengajarkanku makna bersyukur…

5 tahun kemudian

Tahun ini engkau memasuki sekolah dasar. Usiamu belum genap enam tahun. Bagaimana engkau dengan gagah tanpa ragu atau malu-malu melangkah memasuki ruang kelasmu. Bahkan engkau tak minta dijemput. Saat ini aku mulai menyadari sifat keberanian yang tumbuh dalam dirimu.

9 tahun kemudian

Putriku, sungguh aku pantas bangga padamu. Tahun ini engkau ikut Cerdas Cermat tingkat kabupaten. Dengan bangga aku menyaksikan engkau tampil penuh percayar diri dan aku pun bisa berkata pada teman-temanku; itu anakku…Meski tidak juara pertama, aku tetap bangga padamu. sifat rasa ingin tahumu yang besar, sabar, dan selalu tersenyum membuatku semakin selalu juara kelas.

Jika hari Ahad tiba, engkau lebih suka membantuku membersihkan taman dan rumah. jika hari libur tiba, engkau lebih suka bersamaku dianding pergi dengan ibu dan saudara-saudaramu ke rumah kakek dan nenek di seberang. padahal disana tempat lahirmu.

Kebersamaan dan kedekatanmu denganku, membuatku sering meperlakukanmu sebagai teman bercerita, dengan senang hati aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, membekalimu dengan pengatahuan dan mengajakmu ikut denganku ke tempatku mengajar.

13 tahun kemudian
Putriku, sungguh sifatmu yang suka ingin tahu berbuah juga. Engkau memintaku memindahkanmu ke SMP setelah sekolah di tsanawiyah. alasanmu waktu itu, karena di tsanawaiyah, kurang sekali belajar matematika. waktu itu aku sangat khawatir...karena melihat pola pergaulan remaja yang tidak benar. akhirnya , aku izinkan pindah asal kau memenuhi beberapa syaratku, yaitu jangan bergaul dengan lawan jenis terlalu intens.

Putriku, jika aku marah padamu semata-mata karena aku khawatir engkau larut dalam pola pergaulan yang tak benar, anakku.

17 tahun kemudian

Tahun ini engkau kelas 2 SMA. Engaku tumbuh menjadi gadis periang,cerdas, dan banyak teman. Putriku, disetiap bangun pagiku, aku seolah tak percaya engkau adalah putriku, putri seorang yang sering dipanggil guru, putri seorang arung larompo, akhirnya, kenekatanmu terjadi lagi. saat itu kau meminta ijin padaku agar ikut tes seleksi kelas khusus untuk bisa melanjutkan sekolah di makassar. karena melihat kegigihanmu akhirnya aku mengijinkamu. takdir sudah tertulis, akhirnya kau lulus dan melanjutkan pendidikan di makassar selama 1 tahun.kau berniat hidup mandiri dengan ngekost, padahal rumah kelurga kita ada disana. Putriku, entah mengapa aku merasa seperti kehilanganmu...

Jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada dirimu selama melewati usia remajamu, putriku maka akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu. Aku tidak behasil mendidikmu dengan cara yang Islami.

Dalam doa-doa malamku selalu kebermohon pada Rabbul ‘Izzati agar engkau dipelihara olehNya ketika lepas dari pengawasan dan pandangan mataku. kenekatanmu kembali kulihat ketikaengkau mengatakan ingin ikut tes UM UGM di jakarta. selama ini, engkau belum pernah pergi jauh bahkan keluar sulawesi.Engkau kemukakan sejumlah alasan, bahwa hidup kita tidak akan berubah ika kita tidak berusaha. usaha dulu dengan makimal, hasilnya serahkan padaNYA.disatu sisi aku kagum dengan keberanianmu mengambil keputusan, tapi disisi lain aku akan merasa semakin kehilanganmu jika takdir itu kembali tertulis.Ya Rabbana, aku tak sanggup membayangkan engkau menuntut ilmu terlalu jauh sendirian dikampung orang.

18 tahun kemudian
akhirnya takdir kembali tertulis.Dalam silsilah keluarga kita tidak satupun anak perempuan belajar ilmu sejauh dirimu di UGM, anakku, apalagi di fakultas farmasinya. Fakultas farmasi terbaik di Indonesia. aku masih ingat, ketikakita berdua berbincang- bincang di depan rumah terkait kepulanganku penataran dari jogja. waktu itu usiamu masih 10 tahun. engkau sangat serius mendengarkan ceritaku mngenai kemegahan dan keistimewaan UGM,saat itu engkau celetuk, "nanti saya juga sekolah disana opu".

22 tahun kemudian

Putriku, kini aku menulis dengan suasana yang lain. Ada begitu banyak asa tersimpan di hatiku melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Engkau menjadi lebih santun, bahkan terlihat lebih dewasa.

Kurasakan rumah kita seolah-olah berpendar cahaya setiap saat dilantuni tilawah panjangmu. Gemercik suara air tengah malam menjadi irama yang kuhafal dan pantas kurenungi.

Putriku, jika aku pernah merasa bahagia, maka saat paling bahagia yang pernah kurasakan di dunia adalah saat ketika diam-diam aku memergokimu tengah menangis dalam sujud malammu…. Selalu kuyakinkan diriku bahwa akulah si pemilik mutiara cahaya hati itu, yaitu engkau putriku…

Putriku, kalau saat ini aku merasa sangat bangga padamu, maka itu amat beralasan. Engkau telah lulus menjadi sarjana. Keharuan yang menyesak dadaku mengalahkan puluhan tanya ibumu, diantaranya; mengapa engkau tidak punya teman pendamping pria seperti yang lainya? Engkau begitu sederhana, putriku,, namun, semua itu justru membuatku semakin bangga padamu. Entah darimana engkau bisa belajar begitu banyak tentang kebenaran, anakku…


Putriku, tahun ini usiaku memasuki bilangan 55 tahun.
Akhir-akhir ini tubuhku terasa semakin melemah.
aku ingin engkau mengetahui betapa besar cintaku padamu, mengapa dulu aku sering memarahimu..maafkan opu, putriku…

Kini hanya engkau satu-satunya harapanku…Aku percaya engkau dapat menjadi panutan bagi saudar-saudaramu dan lingkungamu.
Dalam diri dan jiwamu kini terhimpun beragam kapasitas keilmuan dunia dan akhirat. Kini kusadari engkau bukan saja sekedar terlahir dari rahim ibumu, tetapi juga lahir dari rahim bernama Hidayah. Semoga Allah menyertai dan memudahkan jalan yang akan engkau lalui, putriku. Amien Ya Rabbal ‘Alamiin.

(dari sedikit gubahan)

Tidak ada komentar: