saya percaya babak demi babak dalam setiap episode kehidupan kita tidak pernah terlepas dari skenario ALLAH. Begitu pun ketika kita memutuskan untuk menjadi seorang aktivis dakwah –sebutan yang begitu berat saya rasakan- di kampus. Ya! Ketika hidayah untuk ber-Islam secara kaffah datang menyapa, kita dituntut untuk selalu memperbaiki diri. Dan ternyata itu belum cukup. Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Alangkah egoisnya kita ketika tak mau berbagi dengan saudara-saudara kita. Azzam untuk mengajak orang merasakan indahnya hidup dengan iman dan Islam pun tertanam kuat di dada.
Menjadi baik memerlukan proses. Kita tidak bisa menunggu sampai menjadi benar-benar baik, baru kemudian mengajak orang menuju kebaikan. Learning by doing pun menjadi pilihan! Kita tak pernah tahu berapa jatah usia yang diberikan-NYA. Mau tak mau proses perbaikan diri kita pun harus bersinergi dengan perbaikan ummat secara keseluruhan. Dan semua berawal dari hidayah.
Hidayah teramat mahal dan istiqomah tidaklah mudah. Beruntunglah orang yang memutuskan untuk memilih jalan dakwah. Sebab ia tidak sendirian memikul berat bebannya. Ia punya banyak saudara perjuangan yang akan menjaganya. Bukankah ALLAH pun menyukai kita berjuang dalam barisan yang teratur? Dan aktivis dakwah bukanlah status sementara ketika kita di kampus. Di manapun kita, kita adalah da’i sebelum menjadi yang lainnya. Semoga jalan dakwah ini mampu menyelamatkan kita dari adzab pedih-NYA!
PERCAYALAH, TAK ADA YANG SIA-SIA
Saya begitu terkesan dengan taushiyah yang ditulis oleh seorang ukhti dalam blognya, ”Tak ada yang sia-sia. Apa yang sudah kita lewati semuanya indah. Ya! Semua terasa indah bila dibingkai dengan bingkai dakwah.”
Mari kita bingkai tiap kejadian dengan bingkai dakwah. Berharap setiap permasalahan yang dihadiahkan untuk kita menjadikan kita lebih dewasa dan bijak. Ingatlah bahwa ALLAH tidak pernah membebani seseorang di luar batas kesanggupannya. Maka ketika kita memutuskan untuk berjalan di atas jalan dakwah, bersiaplah menghadapi segala kemungkinan. Percayalah, tak akan ada yang sia-sia.
LDK; SALAH SATU WADAH PERJUANGAN
Kesan pertama di kampus hijau tercinta –UGM- memang benar-benar hijau. Klop. Pepohonan yang rindang di berbagai penjuru kampus tidak sendirian menjadi penarik perhatian. Ada sekian banyak performance ikhwan/akhwat yang berlalu lalang sepanjang hari di ruas-ruas jalannya. Saya segera beradaptasi dan mencari tempat untuk beraktualisasi, motivasi awal untuk bergabung dengan LDK lebih karena keinginan untuk beraktualisasi. Bagi saya waktu itu, LDK adalah zona ternyaman untuk berekspresi. Baru beberapa waktu berjalan, saya tersadar bahwa LDK hanyalah salah satu wadah perjuangan di kampus. Namun saya sudah terlanjur jatuh cinta, saya tak ingin ‘mendua’ meskipun akhirnya ada amanah lain yang juga harus diterima dengan lapang dada. Saya berada di LDK selama 3 tahun.Tahun pertama di LDK (2006/2007) saya berjumpa dengan orang-orang hebat. Saya menjumpai sosok muslimah2 yang pantas dijadikan teladan. Dari mereka saya belajar betapa pentingnya perhatian, keikhlasan dan pengorbanan. Saya mencoba memahami bahwa kinerja bidang pun bukan sekedar merealisasikan program kerja yang telah dibuat. Saya menyaksikan sosok –senior- yang tenang dan selalu terkendali menghadapi setiap kondisi. Secara tidak langsung saya juga diajarkan untuk segera menetralisir rasa kecewa terhadap kenyataan yang seringkali berbeda dengan harapan. Salah satunya adalah keadaan di mana saya mendapati tidak semua pengurus aktif. Tahun kedua (2007), tidak banyak yang berubah. Di tahun ini periodesasi kelembagaan mengikuti tahun buku secara umum. Jadi masa ini merupakan tahun kepengurusan tersingkat, sekitar setengah masa kepengurusan sebelumnya. Tahun ketiga (2008), saya mendapat tanggung jawab yang lebih tinggi. Tahun ini saya mulai memahami sedikit demi sedikit hal2 yang dulu saya pertanyakan dalam hati. Meskipun begitu, masih banyak kerja-kerja yang belum optimal. Akhirnya semua kembali pada masing-masing personal. Bagaimanapun, semua mempunyai tanggungjawab untuk melakukan yang terbaik di setiap amanah yang diembannya.
Di tingkat fakultas, semester awal tentu saja saya mengikuti AAI, yang merupakan praktikum mata kuliah agama islam. Pasca itu ada kegiatan follow up, sebagai pendampingan kader mula yang terbagi dalam kelompok kecil. Saya sangat terkesan dengan pendamping saya; seorang Ukhti yang telah membuat saya belajar tentang kesabaran dan kelembutan dalam ketegasan. Tak disangka, pada akhirnya saya pun ternyata ditakdirkan menjadi konseptor AAI fakultas..
Kadang saya merasa bukan apa-apa ketika berhadapan dengan seorang aktivis yang TOP BGT; jam terbang tinggi, binaan banyak, prestasi akademis oke, pintar berorasi, jaringan luas, keluarga terkondisi, dst. Sedangkan saya? Malang nian bila hanya penuh kekurangan demi kekurangan tanpa satu pun kelebihan. Jangan-jangan saya tidak bersyukur. Jangan-jangan saya tidak mau berusaha?
Setiap orang itu unik. Begitu pun aktivis dakwah kampus. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Meskipun tawadzun tidak mudah dan kita punya banyak keterbatasan namun ALLAH telah memberi kemampuan kita untuk berusaha. Ketika di hadapkan pada sebuah kegagalan, sudah bukannya lagi seorang aktivis berputus asa.
Tak terasa usia di kampus sudah semakin berbilang. Amanah kelembagaan saya sudah selesai. Dan kini –semoga tahun terakhir di kampus- saya masih harus belajar tentang banyak hal. Sungguh, betapa kehidupan pasca kampus perlu persiapan yang matang. Medan jihad pasca kampus tentu lebih berat dan menantang.
BERTAHANLAH, SAHABAT... PERJUANGAN MASIH PANJANG
Perjumpaan selalu diikuti dengan perpisahan. Begitulah kebersamaan yang kita lalui dengan sahabat perjuangan di kampus. Semua akan menjadi kenangan. Namun semua tak berakhir di sini. Amanah sebagai seorang aktivis akan selalu melekat. Ingatlah bahwa kita telah berikrar untuk menjadi da’i sebelum menjadi yang lainnya; nahnu du’at qobla kulli syai’in! Meskipun raga tak akan lagi melangkah beriringan tapi jiwa kita tak pernah berpisah, selalu menyatu dalam cinta untuk menyeru pada-NYA. Lantunkanlah do’a rabithah sebagai pengikat hati-hati kita. Dan jangan lupa berdoa agar kelak ALLAH mengumpulkan kita kembali di tempat yang lebih baik –jannah-NYA-
Selamat berjuang! ALLAHU AKBAR!
Tulisan diatas dikutip dari sebuah blog yang sy rasa sebagian perjalanan dakwah kampusnya mirip dengan saya, tentunya dengan sedikit gubahan...
–hamba ALLAH yang dhaif-
Eka purnama putri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar