Senin, 16 November 2009

AAI,,,momen inovasi dan koreksi diri

Mengharap senang dalam berjuang

Bagai merindu rembulan di tengah siang

Arah jalan tak seindah sentuhan mata

Jalannya jauh ujungnya belum tiba

Tapi jalan kebenaran

Tak akan selamanya sunyi

Ada ujian yang datang melanda

Ada perangkap menunggu mangsa

Sepenggal bait dari nasyider, tapi sayang saya lupa namanya yang berjudul sepotong hati. Lagu ini sebenarnya saya dengar sejak SMA di TPI tiap pagi sebelum program acara di chanel tersebut dimulai sambil bersih-bersih dan menyiapkan diri ke sekolah. sebelumnya saya juga tidak tahu artinya lagu itu, cuma senag aja mendengar dan menyayikan di sela aktivitas pagi hari. Akhirnya Sejak kuliah,, dan semakin sering dengar nasyid, barulah tahu makna dari lagu itu….

Satu kata…inspiratif …

kalo nggak percaya,,, resapi, pikirkan dan kaupun akan mengerti…

postinganku kali ini tentang hikmah perjalanan di AAI (Asistensi Agama Islam). Alhamdulillah tahun ini, saya di beri kesempatan jadi salah satu pengelola AAI fakultas. Terutama dalam hal kurikullum. Sebelum menerima ladang ini. Saya pernah berpikir, kenapa saya selalu ada di bidang yang berkaitan dengan media dan tulisan,? Mulai saat ikut training kepenulisannya pak yusuf(gimana ya,,kabar beliau sekarang??), terus jadi M.O KMMF, ikut lomba-lomba tulis,, hingga sekarang ada di kurikulum AAI. Tapi saya coba berpikir positif, mungkin inilah potensi saya yang tidak ditemukan semasa SMA. Boleh dikata, waktu SMA saya ilfill dengan namanya bidang tulis menulis, Karya ilmiah remaja(KIR) atau jurnalistik. Justru lebih senang dengan kegiatan jalan-jalan, studi Tour, camping, dan naik gunung. Boleh dibilang agak tomboy, tapi alhamdulillah, opu (panggilan bapak) tidak melarang.

Loh…kok semakin jauh dari inti ceritanya??

Yup yup...kita kembali ke jalan cerita utama........

AAI tidak terlepas dari akademik fakultas, sehingga arah gerak AAI jangan sampai melenceng dari misi fakultas(kata salah satu dosen ternama di farmasi). Begitupun sepengggal kisah dan hikmah perjalananku di AAI. Kadang- kadang tekanan itu perlu agar kita bisa lebih inovatif dan memperhatikan kinerja kita kembali. Itulah mungkin yang kualami dan teman- teman pengelola AAI tahun ini. Jika menilisik ke masa sebelumnya, dimulai saat kami diloby menjadi pengelola oleh kakak kelas hingga membuat rancangan AAI dan kurikulum dan tetap berlangsung hingga sekarang. Terus tenag kadang kami kesulitan untuk mengonsep, mentransfer ke teman sejawat, dan berkonsultasi dengan dekanat. Sehingga tak jarang kritikan, tekanan mewarnai kinerja kami. Sebenarnya kadang ada rasa sedih, kecewa, namun tidak berlangsung lama, selalu saja ada spirit baru yang timbul, ide ide baru yang muncul, dan yang terpenting ilmu yang semakin bertambah. Terutama ketika ke pihak dekanat, saya mulai memaknainya dengan moment menjemput ilmu. Seringkali diberikan ilmu baru dan kiat bagaimana menjadi asisten yang baik, mendidik orang lain. Sehingga momen tersebut menjadi momen evaluasi untuk mengoreksi kinerja dan membuat kami lebih kompak lagi dalam menjalankan program....

Saya semakin sadar bahwa mendidik umat memang bukan perkara gampang, tidak cukup dengan pemberian materi tetapi kita tidak mengerti peran kita disana, hanya sekedar menjalankan kewajiban tapi tidak punya taste atau soul,, kalo kata pak sampurno (dosen manajeman Farmasi), tidak punya distingtivness. Padahal umat yang kita didik adalah pemimpin masa depan, generasi penerus pembangunan dan juga penerus perjuangan di jalan kebenaran. Kayak kata pak Sampurno lagi,,ibaratnya AAI ini adalah metode atau strategi untuk mempertahankan dan mengembangkan intanggible aset dari islam itu sendiri. Mendidik umat diperlukan niat yang ikhlas, kepedulian dan profesionalitas. Apalagi calon farmacist, Karena profesional merupakan point penting untuk berkarya di masyarakat. Saya penah baca buku berinisial RD, disitu dinyatakan kritikan, celaan adalah keniscayaan dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Hal tersebut penting, agar kita kembali memperbaiki niat, dan mengoptimalkan ikhtiar dibandingkan pujian, pengharagaan atas kinerja kita karena hal tersebut dapat membuat terlena, menimbulkan kemalasan dan membuat kita kurang kreatif...

Satu hal lagi hikmah yang dapat diambil, Allah maha penentu kejadian. kadang apa yang kita rencanakan tidak terjadi, ternyata Allah berkehendak lain. Mungkin ada rasa sedih , kecewa dan putus asa. Tapi dengan cara itulah Allah mendidik kita agar lebih baik lagi melalui ucapan orang lain. Selain itu,makna dari sebuah tim akan lebih terasa, ada saja teman yang berpikir lebih objektif, kita diajak berpikir jangka panjang, menenangkan diri kembali dan tentu saja mencari ide yang lain. Ibaratnya jika nasi sudah menjadi bubur, sisa kita tambahkan bawang goreng, daun soup, tempe goreng agar terasa enak.

Teruntuk seperjuanganku di AAI, jazakumullah khairan katsiran...

Terima kasih atas dukungan teman-teman, terimaksih atas ukhuwahnya selama ini

Semoga Allah menguatkan kita di jalanNYA....

2 komentar:

Anonim mengatakan...

nice post,,
maknai setiap perjalanan kita sebagai momentum proses perubahan 'tuk menjadi lebih baik, 'tuk menjadi lebih dewasa, 'tuk menjadi lebih profesional, 'tuk menjadi pejuang2 yg tak pernah menyerah.
demi 1 tujuan "Farmasi yang lebih Islami" ^^
Ka, blognya tak link ke blog ku yang baru ya....

Sangherbalis mengatakan...

Syukran ji!
Oh iy,blog puji yg lama blm ta ganti