Kata-Katanya adalah sihir. Suara yang mengantar pikiran-pikirannya adalah gema yang menguasai jiwa. Sorot mata yang menyertai nasihat-nasihatnya adalah kekuasaan yang mengalahkan hati. Ribuan atau bahkan ratusan ribu orang menemui kesadarannya kembali begitu mereka mendengarkannya/ Mereka semua bertobat seketika. Bahkan, Pemilik hati sekeras batu sekalipun. Bahkan, penguasa paling digdaya yang tidak pernah menangis seumur hidupnya akan menangisi dirinya di hadapannya. Apakah yang ia miliki???
Kekuasaanya tidak mengikat, tapi mengendalikan. Tidak menekan tapi menggetarkan. Tidak mengancam tapi mempesona. Tidak menakutkan, tapi menggairahkan. Tidak memaksa tapi mencerahkan. Itulah kekuassan spiritual.
Ia berkuasa karena kekuatan pribadinya,ia berkuasa dengan kharismanya. Kharismanya terbentuk dari gabungan wibawa dan pesona, ilmu dan akhlak, pikiran dan tekad, keluasan wawasan dan kelapangan dada. Mereka menyebarkan ilmu dan cinta. Mereka membawa cahaya dan menerangi kehidupan manusia.
Kekuasaan spiritual biasanya menembus sekat-sekat waktu. Sebab ia tidak bercokol dalam batasan waktu kekuasaan struktural. Kekuasaan itu melekat dalam serat-serata pikiran kita, merengkuh setiapa sudut jiwa kita. Ia datang seperti angin yang meniup gunug pasir di tengah sahara. Pasir-pasir lembut itu beterbangan samapai jauh. Lalu membentuk gunung pasir yang lain. Di tempat lain. Yang lebih indah.
Atau seperti oase di tengah gurun. Disanalah para pengembara menyelesaikan dahaga atau mungkin seperti telaga dalam bait-bait Sapardi Djoko Damono dalam
“ Akulah Si Telaga”
Akulah si telaga: berlayarlah diatasnya
Berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan
Bunga-bunga Padama
Berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
Sesampai di seberang sana,tinggalkanlah begitu saja perahumu
Biar aku yang menjaganya....................
(anis Matta)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar