Sabtu, 13 Juni 2009

Membina orang lain sama dengan membina diri sendiri

Seorang guru akan merasakan kebahagian sejati ketika didikannya berhasil, bahkan saking bahagianya, air matanya pun menetes. Adalah kesyukuran yang dalam jika menyaksikan banyak generasi baru yang mulai tumbuh sebagai bibit yang baik di atas lahan kebaikan yang kita semai. Ketika kita melihat ada perbedaan akhlak dan moral mereka yang perlahan menjadi lebih baik. Ketika sudut pandang dan cara berpikirnya sudah terpola dengan sudut pandang akidah islam. Itulah kebahagian sejati seorang pendidik, guru atau murabbi.
Obsesi dan kerinduan yang memenuhi hati adalah ketika hari demi hari, bulan berganti bulan, tahun bergulir tahun, menyaksikan kebaikan yang terus bertambah dari binaan kita. Kejujurannya, keikhlasannya, pengorbanannya, dan amal-amalan shalihnya yang terus bertambah.
Tapi disisi lain, ternyata interaksi kita dan upaya kita mengakader serta membina, mengharuskan kita untuk terus bercermin dan berhati-hati. kita tidak boleh ceroboh dan mudah melemah. Karena kita tahu dan semakin menyadari bahwa keberhasilan pembinaan selalu merupakan turunan dari adanya qudwah dalam kaderisasi yang kita jalani.
Sebenarnya seorang pemimpin akan segera mengetahui karakter dirinya dengan melihat orang-orang yang ada di bawah kepemimpinannya. Tak bedanya dengan seornag murabbi, pembina maupun juru dakwah. Karakter dan sikap-sikapnya akan turun dan sangat mewarnai kader-kader yang dibina dan didakwahinya. Maka dari sinilah kita memperoleh pelajaran besar dari keberadaan kita. Membina orang lain sejatinya adalah membina diri sendiri. Menasehati orang lain sejatinya adalah menasehati diri sendiri.
(disadur dari bukunya M. Lili nur Aulia )

Tidak ada komentar: