pelajaran berharga tidak hanya didapatkan ketika kita sedang berada di kelas, di sekolah ataupun perguruan tinggi. pelajaran berharga juga tidak hanya diperoleh dari buku-buku yang kita baca, tapi pelajaran berharga pun dapat diperoleh dari sosok-sosok yang kita temui di jalan, di pasar, di kantor, atau di bus....saya menyebut pelajaran berharga itu sebagai titik pencerahan. tentu saja semua orang ingin terlihat cerah baik secara fisik, maupun secara batiniah. cerah secara batin menurut saya adalah sebuah kondisi jiwa yang tenang, energik,sangat produktif dengan kebaikan....
jadi, ceritanya saya bertemu sosok-sosok istimewa ketika pulang dari kampus. waktu itu, saya sudah berada di dalam bus trans yang melaju dari terminal condongcatur, kemudian sampailah di shelter depan kalista. ketika pintu bis dibuka, masuknya seorang pemuda, usianya mungkin sekitar 19-20 tahun, beliau masuk sambil dituntun karena kondisi fisiknya yang tidak seperti orang kebanyakan.karena tidak ada tempat duduk, beliau terpaksa berdiri, padahal kondisinya sangat sulit untuk itu. akhirnya ada penumpang yang berbaik hati, memberikan temapt duduknya, dan menggantikan beliau untuk berdiri. sy sendiri jauh duduk di belakang, namun sepanjang perjalanan peristiwa itu saya cukup menyita fikiran saya....bus melaju sampailah di depan monjali, bus tiba-tiba berhenti, dan berjalan lambaaat sekali, ternyata di depannya ada gerobak sampah yang lewat, setelah cukup celah, bus melaju lebih cepat dan berhenti di shelter monjali, saya pun turun, dan juga pemuda itu, beliau dituntun sampai menuruni tangga.
saya baru menyadari bahwa ternyata yang mendorong gerobak sampah itu adalah bapak2 mungkin usianya sekitar 50an tahun. sampah yang diangkut sangat banyak, hingga tak terlihat dari arah belakang dan samping.
mungkin cerita ini tidak terlalu istimewa, mungkin terbaca biasa saja...tapi bagi saya mereka adalah sosok-sosok istimewa yang mencerahkan saya....terkadang kita masih sering menengok orang-orang diatas kita, baik dari segi prestasi, kekayaan, kedudukan dan lain-lain, mupeng ingin seperti mereka, hingga kita sering lupa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki, yaitu tubuh kita, tangan, kaki kita dan segala perangkat tubuh yang memudahkan kita melakukan aktivitas apapun.
*perlu belajar lagi tentang makna syukur
jadi, ceritanya saya bertemu sosok-sosok istimewa ketika pulang dari kampus. waktu itu, saya sudah berada di dalam bus trans yang melaju dari terminal condongcatur, kemudian sampailah di shelter depan kalista. ketika pintu bis dibuka, masuknya seorang pemuda, usianya mungkin sekitar 19-20 tahun, beliau masuk sambil dituntun karena kondisi fisiknya yang tidak seperti orang kebanyakan.karena tidak ada tempat duduk, beliau terpaksa berdiri, padahal kondisinya sangat sulit untuk itu. akhirnya ada penumpang yang berbaik hati, memberikan temapt duduknya, dan menggantikan beliau untuk berdiri. sy sendiri jauh duduk di belakang, namun sepanjang perjalanan peristiwa itu saya cukup menyita fikiran saya....bus melaju sampailah di depan monjali, bus tiba-tiba berhenti, dan berjalan lambaaat sekali, ternyata di depannya ada gerobak sampah yang lewat, setelah cukup celah, bus melaju lebih cepat dan berhenti di shelter monjali, saya pun turun, dan juga pemuda itu, beliau dituntun sampai menuruni tangga.
saya baru menyadari bahwa ternyata yang mendorong gerobak sampah itu adalah bapak2 mungkin usianya sekitar 50an tahun. sampah yang diangkut sangat banyak, hingga tak terlihat dari arah belakang dan samping.
mungkin cerita ini tidak terlalu istimewa, mungkin terbaca biasa saja...tapi bagi saya mereka adalah sosok-sosok istimewa yang mencerahkan saya....terkadang kita masih sering menengok orang-orang diatas kita, baik dari segi prestasi, kekayaan, kedudukan dan lain-lain, mupeng ingin seperti mereka, hingga kita sering lupa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki, yaitu tubuh kita, tangan, kaki kita dan segala perangkat tubuh yang memudahkan kita melakukan aktivitas apapun.
*perlu belajar lagi tentang makna syukur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar