Jumat, 10 April 2009

Perkembangan oBAT aLaM

Secara tradisional , obat alami menggunakan bahna segar secara langsung. Namun beberapa kelemahannya adalah tidak awet, kadar zat aktif sangat kecil, dan kapasitas produksi sangat terbatas misalnya produsen jamu gendongan yang hanya membuat jamu untuk sekali gendong

Karena kelemahan diatas , dibuatlah bahan kering yang juga bisa untuk persediaan atau stok.dengan bahan kering ini diharapkan lebih awet dan tidak perlu diserbuk. Dari sediaan ini bisa dibuat 2 macam produk, yaitu
1. rebusan/Godogan: merebus bahan kering lalu diminum dengan ampasnya
2. seduhan : dilarutkan dalam air panas lalu diminum beserta ampasnya

Agar zat aktif yang diperoleh lebih banyak, maka dibuatlah dalam bentuk ekstrak . Selain itu , bentuk ekstrak juga mendukung kepraktisan dan efektifitas. Hal ini akan mendukung pengembangan formulasinya. Agar aktifitasnya lebih tajam , maka dibuatlah dalam bentuk isolate yang berisi kandungan aktif ekstrak. Dari isolate inilah dapat dibuat untuk formulasi sintesis.

Secara umum alur produksi ekstrak yaitu bahan baku dibuat serbuk atau simplisia yang selanjutnya dirajang atau digiling. Lalu ditimbang dan di sari dengan cairan penyari untuk memperoleh ekstrak. Nah , ada beberapa cara ekstraksi yang sering dilakukan yaitu: maserasi, perkolasi, infundasi, dan destilasi untuk minyak atsiri.
Selanjutnya dipisahkan ekstrak dari ampasnya, biasanya sih dengan disaring. kalo kita mau ekstrak kental ,filtrate yang diperoleh dipekatkan dengan penguapan hingga kental dan terakhir ekstaknya disimpan.

Tidak ada komentar: